Skip to content

Desember 1936

10 November 2008

Kakekku yang masih muda dengan postur tubuh tegap dan gempal sedang berada di ladang dengan ibunya. Hanya ubi yang ada di ladang yang tidak jauh dari rumah itu. Cangkul yang sudah hampir patah ujungnya terus menghujam tanah yang gembur. Ya,  mereka sedang menggali tanah untuk mengambil ubi-ubi yang mereka tanam. Bukan untuk mereka sendiri, tetapi untuk para gerilyawan.

Hampir selesai pekerjaan itu dikerjakan, tiba-tiba terdengar suara menderu-deru dari atas. Sebuah pesawat terbang rendah di atas mereka. Kaget dan takut bercampur menjadi satu, berbaur dengan keringat dingin yang mengucur dari tubuh mereka. Dari moncong pesawat itu, meluncur puluhan peluru tajam yang berdesing di antara pepohonan di ladang. Mereka berdua berlari menyelamatkan diri. Pesawat itupun lewat. Namun di luar dugaan, muncul pesawat yang lain. Sama, pesawat itupun memuntahkan puluhan peluru tajam yang menghujam.

Tak ingin sang ibu terkena tembakan, kakekku yang berlari itu segera menabrak ibunya dari belakang. Menjatuhkan diri menghindari desingan peluru. Kakekku di atas tubuh ibunya, melindunginya. Pesawat ke dua itupun lewat, berlalu meninggalkan suara yang masih terasa hingar di telinga.

Keduanya masih tertelungkup di tanah. Berharap kedua pesawat itu tidak kembali lagi. Atau paling tidak berharap agar tidak ada pesawat ketiga. Masih sunyi, senyap. Kakekku segera berdiri. Namun dirasakan ada tetesan darah di kepalanya. Ia meraba kepalanya. Tidak terasa sakit. Ia meraba seluruh tubuhnya, juga tidak terasa sakit. Dilihatnya darah di tangan, darah sungguhan. Murni. Tapi darah siapa? Ia tidak merasakan sakit sama sekali.

Bergegas ia bermaksud membangunkan ibunya. Tapi…? Tubuh ibunya sudah penuh dengan lubang. Peluru-peluru tajam sebesar ibu jari kaki orang dewasa itu telah menembusnya. Entah berapa peluru yang menembus tubuh tua itu, hingga darah berceceran di ladang yang tidak seberapa luas itu.

Ya, ibunya telah tiada. Meninggalkan puluhan ubi yang belum sempat dimasak untuk para gerilyawan. Meninggalkan darah yang tercecer, dan meninggalkan air mata di pipi kakekku. Ya, ini memang sebuah kisah nyata yang aku angkat dari sejarah kakekku yang seorang pejuang itu. Kakek yang hingga kini masih ada, walaupun tubuh tuanya itu kini tidak mampu lagi bergerak. Walaupun tubuh tuanya itu kini hanya mampu berbaring di pembaringan.

Kek, dibalik sikapmu yang keras, ternyata engkau seorang pahlawan bagiku. Dibalik sikapmu yang ekstrem, engkau tetaplah seorang patriot. Walaupun aku sering jengkel dengan sikapmu yang seperti “anak-anak”, tapi aku bangga padamu. Bangga pada pahlawanku.

From → Artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: