Skip to content

WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA: AMBURADUL

7 June 2008

Ketika Indonesia dihantam krisis moneter tahun 1998, keadaan menjadi amburadul, penuh dengan ketidakpastian. Hukum, keamanan, ekonomi, pendidikan dan semuanya menjadi carut marut. Lemah, lembek dan tidak berdaya. Ya, hanya dengan dua kata: krisis moneter atau dulu top dengan sebutan krismon.

Efek yang ditimbulkan olehnya cukup dasyat, semua bidang terkena imbasnya termasuk pendidikan. Biaya sekolah menjadi sangat mahal, yang pada akhirnya menimbulkan banyaknya angka siswa putus sekolah. SPP, harga buku dan perlengkapan lainnya menjadi tidak terjangkau. Apalagi bagi mereka yang harus menggunakan sarana transportasi umum untuk mencapai sekolah mereka. Hal tersebut tentunya semakin memberatkan.

Human Development Index dari UNESCO menjabarkan bahwa tingkat SDM masyarakat Indonesia 5 tahun yang lalu berada di bawah Malaysia, Philipina, Muangthai dan Brunai Darussalam. Sangat memprihatinkan, mengingat begitu dasyatnya jumlah masyarakat kita. Namun jumlah yang banyak itu ternyata bukanlah suatu jaminan terhadap SDM kita.

SDM, ya kata yang satu ini memang hanya terdiri dari tiga huruf. Namun untuk dapat memiliki SDM yang unggul, sulit sekali rasanya. Mengapa hal ini terjadi? Hal ini disebabkan oleh pendidikan kita yang masih jauh dari harapan. Sistem pendidikan kita masih tertinggal jauh dengan negara-negara tetangga kita.

Sistem pendidikan yang semestinya mampu mengobati SDM yang mandul, ternyata lebih mandul dari SDM itu sendiri. Pendidikan kita gagal dalam misinya mengangkat martabat bangsa. Ini adalah wajah pendidikan Indonesia, sebuah potret buram yang sudah rusak, berjamur dan memprihatinkan. Faktanya sudah banyak di sekitar kita. Angka kriminalitas yang meningkat, jumlah pengangguran yang “wah”, perilaku pemuda kita dan masih banyak lagi.

 

PENURUNAN MORAL

 

Kegagalan pendidikan kita tentunya buka tanpa sebab. Faktor penyebabnya adalah menurunnya moral yang kita punya. Moral yang semestinya didapat dari sekolah, ternyata hanya ada di buku saja. Tanpa adanya aplikasi yang nyata. Guru yang semestinya mendidik siswa, ternyata hanya mengajar. Moralitas tidak diprioritaskan. Kalau toh di dalam kurikulum sudah ada mata pelajaran etika dan moral(entah itu PPKn atau yang dulu dikenal PMP), itu hanya sebuah agenda saja. Hanya untuk dipelajari. Tanpa dipraktekkan. Guru hanya menyampaikan, tidak mencontohkan.

Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Pancasila tidak diaplikasikan nyata dalam hidup. Negara Pancasila yang konon sangat religius telah tercatat sebagai negara terkorup nomor wahid di Asia Tenggara dan nomor 3 dunia. Bukti penurunan moral yang sangat dasyat.

KURIKULUM YANG SALAH

 

Faktor gagalnya pendidikan di negara kita salah satunya juga disebabkan oleh sistem kurikulum yang salah. Kurikulum berkali-kali dirubah, dengan harapan agar target pelulusan siswa tercapai. Nyatanya, nilai siswa banyak yang jeblok. Nilai siswa jeblok, kurikulum diganti lagi, hasilnya begitu lagi.

Seringnya kurikulum yang berganti akan membingungkan guru dalam mengajar. Hal tersebut tentu akan berpegaruh terhadap minat siswa dalam hal belajar, sehingga hasil yang dicapai tidak sesuai dengan target yang diharapkan alias jeblok. Apalagi pada era kini konsentrasi guru dan sistem kurikulum kita hanya diutamakan pada mata pelajaran yang bersangkutan langsung dengan Ujian Akhir Nasional, lainnya seolah mendapat tempat di level dua.

Hal tersebut sesungguhnya tidaklah bijak. Lihat saja mata pelajaran seperti PPKn, Pendidikan Agama, Olah …(raga dan rasa) dan lainnya. Semuanya seolah mendapat tempat kedua setelah Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Guru cenderung “menekan” murid menguasai ketiga materi tersebut. Jika guru terus menekan murid untuk menguasai ketiga pelajaran tersebut saja, lalu untu apa guna dari mata pelajaran yang lain?

 

SOLUSI

 

Masalah pendidikan erat kaitannya dengan guru dan pemerintah. Guru dan pemerintah adalah faktor penting dalam masalah ini. Bukan berarti faktor lainnya tidak penting, namun dalam skala prioritas rasanya kok kedua “institusi” tersebut erat kaitannya, bahkan bersentuhan langsung dengan yang namanya pendidikan.

Untuk itu solusi masalah sebenarnya ada pada guru dan pemerintah. Bagaimana guru dan pemerintah harus bahu-membahu mengatasi masalah amburadulnya kondisi pendidikan di Indonesia.

Bagi guru langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan meningkatkan profesionalisme. Meningkatkan dan mengembangkan diri dalam bidang pengajaran dan pendidikan. Bagaimana mencari terobosan yang luas dalam tugas belajar. Mencari strategi yang tepat agar pembelajaran dapat berlangsung dengan menyenangkan. Menggali diri dalam menambah wawasan dan pengetahuan.

Menciptakan terobosan pengajaran dengan menggunakan alat peraga dalam mengajar misalnya, atau melangsungkan kegiatan belajar mengajar tidak hanya terpaku di dalam kelas. Bisa dilakukan di luar kelas, karena bisa saja hal tersebut dapat menyegarkan dan membangkitkan kembali ingatan (bukan hanya siswa, namun juga guru).

Bagi pemerintah, seyogyanya semakin membuka lebar pintu hati bagi guru. Birokrasi bagi guru layaknya dipangkas, agar guru tidak hanya terpaku pada nasibnya yang mungkin sudah sekian tahun mengajar namun statusnya belum jelas. Juga wajib memberikan insentif bagi guru berprestasi dan berinovasi tinggi dalam dunia pendidikan.

Rasanya jika guru dan pemerintah saling bekerja sama, pendidikan Indonesia akan mengalami perbaikan walau setahap demi setahap. Guru tidak hanya menuntut hak-hak nya saja, namun juga meningkatkan prestasi. Pemerintah tidak hanya menekan saja, namun juga memberi kelonggaran. Semoga dengan kerja sama yang baik antara guru dan pemerintah dan dengan didukung oleh elemen lain, pendidikan akan segera menampakkan citra yang seberarnya.

From → Artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: